Membangun Tim Yang Kreatif

  • kanirana
  • Jan 31, 2021

Pernah nggak temen-temen merasakan… sebagai Pemimpin kok jadinya serba mikir sendiri, memutuskan sendiri… bahkan sampai hal-hal yang seharusnya dipikirkan dan diputuskan oleh tim.

Setiap ada masalah di bawah, selalu minta keputusan Pemimpinnya. Mereka nggak berani ambil langkah karena takut salah.

Atau bisa jadi Pemimpinnya-lah yang takut kalau timnya mengambil keputusan, malah bakal runyam, karena khawatir keputusannya bagus serta tepat. Tentu karena tidak yakin akan kemampuan berpikir timnya sendiri, berdasar pengalaman-pengalaman sebelumnya.

Belum lagi dalam rapat, pas diminta pendapat, tim pada diem. “Saya ngikut boss saja….”

Hm… mari kita kupas…

Sebelum lebih dalam, saya ingin memaparkan sebuah kenyataan bahwa, kondisi dimana Pemimpin mengambil semua keputusan, bukanlah hal baik. Mungkin seakan sang Pemimpin jadi punya kuasa mutlak. Tim begitu mengandalkan dirinya. Namun, mari kita lihat jangka lebih panjang…

Anggota tim yang tak bisa, tak mau, atau tak berani mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah, tentu juga susah diajak mikir bareng. Artinya semua beban pikiran dibebankan kepada Pemimpinnya.

Belum lagi saat tim hanya mau, “Saya ngikut boss saja…”, menunjukkan pelepasan tanggung jawab. Saat hasil akhirnya buruk, “Kan saya cuma ngikut boss…”. Sudah nggak mikir bareng, nggak mau menanggung beban bersama.

Sebuah tim dengan ciri-ciri seperti ini akan bergerak tangkas di awal, melesat dengan berbagai lompatan karena keputusan cepat akibat selalu diambil oleh satu orang, namun cepat mati tiba-tiba dikarenakan Pemimpinnya segera mencapai ambang batas kemampuan.

Selain mengambil keputusan, mengawasi eksekusi, dan berbagai pekerjaan manajerial lainnya, Pemimpin bertanggung jawab untuk memampukan tim dalam berpikir dan berkreasi.

Dalam arti lain, Pemimpin perlu Membangun Tim Yang Kreatif. Utamanya pada lingkaran-lingkaran terdekat yang pekerjaannya lebih banyak menganalisis, memutuskan hal penting, membangun strategi, serta memecahkan masalah.

Tidak semua orang terlahir kreatif. Namun Kevin Ashton dalam bukunya How To Fly a Horse meyakinkan kepada kita bahwa kreativitas bukan bakat. Semua orang bisa mendapatkannya dengan berbagai proses belajar.

Saat menemui tim yang kurang kreatif, hindari berpikir bahwa, “Dia memang bukan orang kreatif!”. Cukupkan pada berpikir, “Dia belum kreatif, perlu saya bantu!”

Orang menjadi kreatif karena ia punya banyak bahan ide, ia berani mengeluarkan idenya, serta senantiasa terbuka akan hal-hal baru. Untuk mewujudkan ketiganya pada tim, Pemimpin perlu:

1. MEMFASILITASI TIM UNTUK BELAJAR DARI BANYAK SUMBER SECARA KONSISTEN

Seseorang sulit kreatif kalau di dalam pikirannya tak banyak bahan untuk diolah. Semakin banyak seseorang menambah wawasan serta ilmu, semakin besar potensinya untuk menjadi kreatif.

Pemimpin perlu memfasilitasi tim untuk terus belajar hal baru secara konsisten, baik meminjamkan/memberi buku, sering mengajaknya berdiskusi, mengenalkannya dengan orang-orang hebat, mengikutkannya pada pelatihan-pelatihan berkualitas, dan lain sebagainya.

memfasilitasi tim untuk belajar wawasan dan ilmu baru, mungkin gak langsung menghasilkan cring-cring. Malah banyak keluar biaya.

Memang seperti itulah semua proses belajar. Kita memandangnya sebagai investasi yang dibayar hari ini dan baru dinikmati di masa depan.

2. MENANTANG TIM UNTUK MEMECAHKAN MASALAH

Berikan masalah kepada tim, dan minta mereka memecahkannya.

Misal, jika kebiasaan kerja sehari-hari selama ini menghasilkan kinerja pada angka tertentu, coba tantang tim untuk menemukan solusi atau cara lain yang bisa membuat kinerja meningkat. Beri waktu untuk menemukan jawabannya, dan ajak diskusi tentang tantangan ini secara berkala.

Tantang ia untuk menyelesaikannya sendiri, yang tentu akan otomatis menuntutnya berpikir secara berbeda. Sedikit-sedikit bantu dengan ide, namun hindari memberikan jawaban, “Kamu harus begini… kamu sebaiknya begitu….” karena justru mematikan kreativitasnya yang sudah siap tumbuh.

Menantang tim menyelesaikan masalah, baik masalah existing ataupun memberi masalah baru, membantunya melakukan connecting the dot terhadap segala wawasan serta ilmu di dalam pikiran.

3. MEMBERI RUANG SALAH DAN MENYEMANGATI MEREKA UNTUK BANYAK MENCOBA HAL BARU

Saat tim berusaha memecahkan masalah, beri ‘ruang salah’. Artinya, mereka boleh mencoba berbagai hal baru tanpa takut salah atau disalahkan.

Membolehkan tim berbuat salah pada taraf tertentu, dalam rangka mengembangkan kreativitas dan belajar berpikir serta menyelesaikan masalah, dapat memotivasi tim untuk berani mencoba hal yang selama ini tidak mereka pikirkan.

Tiap anggota tim mungkin berkubang lumpur dan merasakan derita karena tetap perlu mempertanggungjawabkan setiap kesalahannya. Pemimpin pun turut mengalami akibat dimana terjadi kerugian-kerugian sebagai ‘harga belajar’.

Berbagai kesalahan yang terus diperbaiki, dengan didampingi Sang Pemimpin, menjadikan tim lebih yakin pada diri mereka sendiri untuk banyak berkreasi mengambil keputusan dan memecahkan masalah mereka sendiri di masa depan.

Saat tiba waktunya mereka cukup mampu, Pemimpin bakal memiliki teman berpikir yang bersedia bersama-sama menanggung beban pikiran. Tim pun lebih siap mengambil tanggung jawab atas segala keputusan-keputusan dimana mereka (tim) turut berperan penting dalam pengambilan (keputusan)nya.


Ditulis oleh:
SURYA KRESNANDA
Head Coach at Kanirana
0811 2244 111

 

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *