Karakteristik Yang Diperlukan Untuk Membangun Tim

  • kanirana
  • Feb 05, 2021

Jika kita pernah merasakan gagal membangun tim, mari merenung sejenak, apa penyebab kegagalannya?

Gagal atau berhasilnya sebuah tim, ada peran besar Pemimpin di sana. Pemimpin-lah faktor utama yang menentukan bagaimana sebuah tim berjalan. Untuk itu, saat ingin membangun tim, seorang Pemimpin perlu mempersiapkan diri. Termasuk diantaranya, menguasai beberapa karakteristik.

Karakteristik apa yang perlu dimiliki seorang Pemimpin untuk membangun tim?

Paling tidak ada 7 karakteristik dasar untuk mendukung diri seorang Pemimpin dalam membangun dan mewujudkan tim kuat serta produktif.

1. PERCAYA DIRI MAMPU MENGELOLA ORANG LAIN

Untuk membangun tim, Pemimpin perlu punya kepercayaan diri. Tak jarang kami temui seorang Pemimpin yang ingin membangun tim, namun masih merasa dirinya belum pantas memimpin karena terlalu fokus pada kekurangan-kekurangan diri.

Di dalam pikirannya, Pemimpin haruslah sempurna, serba bisa, dan lebih hebat dari timnya. Padahal, Pemimpin membutuhkan tim, justru karena dirinya penuh kekurangan, sehingga mencari orang lain untuk melengkapi dan saling mendukung demi mencapai tujuan besar bersama.

Karakteristik pertama dan paling utama adalah kepercayaan diri, yakin bahwa dirinya pantas untuk diikuti banyak orang dan membawa mereka ke arah yang lebih baik.

Bukankah memang fitrah  setiap manusia terlahir sebagai pemimpin?

2. KOMUNIKASI EFEKTIF DAN ASERTIF

Memimpin orang lain, tentunya membuat seseorang perlu berkomunikasi lebih intens dengan orang-orang yang dipimpinnya. Apalagi dalam konteks tim kerja, dimana komunikasi terjadi bisa dalam hitungan hari, jam, bahkan tiap menit.

Kualitas komunikasi menentukan kualitas hubungan antara Pemimpin dan tim. Kualitas hubungan, sudah tentu berbanding lurus dengan kualitas kinerja.

Dalam koordinasi harian, Pemimpin sering memberi arahan, mendelegasikan tugas, serta menyampaikan informasi dan wawasan. Komunikasi Efektif dibutuhkan agar setiap pesan tersampaikan dengan tepat tanpa salah dipahami oleh tim.

Saat tim melenceng dari jalur, Pemimpin perlu mengoreksi dan mengembalikan ke jalan yang benar. Proses koreksi memerlukan Komunikasi Asertif, untuk dapat menunjukkan poin-poin kesalahan tim dan menyampaikan perbaikan secara terbuka apa adanya tanpa ada yang tersinggung.

3. KEMAUAN UNTUK MEMPERCAYAI ORANG LAIN

Membangun tim, artinya sudah siap mempercayakan sebagian pikiran dan pekerjaan kepada orang lain. Tetapi tak jarang Pemimpin sudah merekrut orang, mengajak beberapa sosok hebat untuk bergerak bersama, namun masih saja belum rela membagi pekerjaan dengan mereka.

Rasa penuh curiga memenuhi perasaannya. “Kalau dia ngerjainnya jelek, bagaimana? kalau tidak sesuai harapan saya, bagaimana? kalau dia lalai, bagaimana?”

Jangan salah, mempercayakan sebagian pekerjaan kepada orang lain, bukan berarti pasti lancar. Sangat mungkin saat tim dipercaya, hasilnya jauh dari harapan. Ini merupakan resiko bekerja bersama orang lain.

Maka, kemauan untuk mempercayai orang lain ini, bukan sekedar percaya bahwa tim akan bekerja dengan baik.

Kemauan mempercayai orang lain, artinya meniatkan diri untuk percaya bahwa perlahan tapi pasti tim bisa bertumbuh dan berkembang untuk bisa menyelesaikan berbagai tugas dengan baik di masa depan. Jika hari ini masih belum, percayalah suatu saat akan bisa.

Kepercayaan ini mendorong Pemimpin untuk tetap mau mendelegasikan tugas meski tidak sebaik saat dikerjakan sendiri, serta berupaya membimbing serta menumbuhkan tiap anggota tim agar dapat menyelesaikan berbagai tugas dan target dengan baik.

4. DISIPLIN PADA PROGRESS PENCAPAIAN TARGET

Tim bergerak dengan target. Pemimpin lah sosok terdepan dalam kedisiplinan terhadap target.

Pemimpin perlu menunjukkan bahwa dirinyalah yang paling getol mengevaluasi target pencapaian, baik target pribadinya maupun target tim.

Hati-hati saat Pemimpin sekedar menghibur tim dengan, “Tak apa-apa kita tidak tercapai, yang penting sudah berusaha…”

Kata-kata tersebut tampaknya baik, namun bisa menjadi bumerang. Tim belajar lewat perkataan dan perilaku Pemimpin. Saat Pemimpin sendiri abai dengan target, jangan harap terbangun tim yang kuat dan siap menghadirkan karya-karya besar.

Jangan biarkan tim berpikir, “Santai aja lah…. Boss aja nggak terlalu ambil pusing dengan target”

Jika itu terjadi, tim menjadi lemah dan beralih ke fokus mereka pribadi masing-masing yang tidak terkait dengan target bersama. Lama-kelamaan Pemimpin bisa frustasi karena tim mulai sibuk dengan agenda sendiri-sendiri, sekedar mencapai target minimal, serta sulit untuk dipacu berlari.

Pemimpin menjadi penjaga terdepan, bahkan selalu ingat, akan target yang sedang dikejar. Pemimpin membantu mengembalikan fokus tim, saat mulai kehilangan fokus tersebut. Dengan disiplin ini, Pemimpin dapat membangun tim militan dengan energi tinggi untuk mencapai tujuan.

5. HASRAT UNTUK TERUS BELAJAR DAN BERTUMBUH

Membangun tim menuntut kerja ekstra bagi seorang Pemimpin. Selain menyelesaikan tugasnya sendiri, ia perlu mengawasi timnya, membimbing timnya, menumbuhkan timnya, mengoreksi timnya, dsb.

Bertambahnya tugas seorang Pemimpin tentu menuntut penambahan kapasitas dan kapabilitas. Kualitas diri Pemimpin perlu ditingkatkan secara berkala dari hari ke hari.

Selain itu, prinsip bahwa ‘Pemimpin kuat akan membawa timnya menjadi tim yang kuat’ senantiasa berlaku, sehingga untuk membangun tim yang kuat, Pemimpin perlu terus menambah kekuatan.

Semakin besar hasrat Pemimpin untuk terus belajar dan bertumbuh, semakin baik ia dalam membangun tim. Tak heran, Pemimpin tak boleh jauh-jauh dari buku, kursus, pergaulan dengan orang-orang hebat, serta akses-akses ilmu berkualitas lainnya.

6. BERKEINGINAN KUAT MENGEMBANGKAN ORANG LAIN

Pemimpin adalah guru pertama bagi anggota timnya, sekaligus merupakan panutan untuk memberi contoh yang baik.

Tak ada sosok yang lebih baik untuk menumbuhkan anggota tim, selain Pemimpinnya sendiri. Sebab, Sang Pemimpin tahu betul seperti apa sifat, kekurangan dan kelebihan, serta keunikan tim, lewat interaksi sehari-hari.

Mengembangkan tim memang menjadi dilema. Di satu sisi, tak mudah bagi seorang Pemimpin untuk mendapatkan berbagai ilmu dan wawasan. Sebagiannya didapat dengan mengeluarkan biaya besar. Kenapa harus dibagikan kepada tim?

Dilema lainnya, kadang Pemimpin berpikir, jika ia mengembangkan timnya menjadi lebih pintar dan berdaya, apakah tidak akan menjadi serangan balik? bagaimana jika timnya malah menjadi kompetitor di masa depan?

Memang tak ada yang tahu masa depan seperti apa. Toh jika suatu hari tak bersama, mantan tim yang pernah dibimbing dan dikembangkan takkan lupa dengan segala kebaikan Pemimpinnya di masa lalu.

Tidak mudah menjadi Pemimpin dengan keinginan kuat mengembangkan anggota tim. Namun jika timnya kuat, bukankah Sang Pemimpin lebih tenang saat mendelegasikan tugas atau memberinya target untuk dicapai?

7. KESABARAN MEMBIMBING TIM HINGGA MAMPU MENGERJAKAN TUGAS DENGAN BAIK

Ada kalanya sudah punya keinginan kuat mengembangkan tim, namun tim yang dibimbing tak kunjung bertumbuh.  Dari seluruh anggota tim, ada satu atau dua orang progress-nya lebih lambat dibanding yang lain. Ini menjadi ujian kesabaran Sang Pemimpin.

Membangun tim, tak selalu mengizinkan kita langsung mendapat para superstar. Seringnya tim kita adalah orang-orang yang perlu diajari terlebih dahulu, tidak sekali, tapi dua, tiga, bahkan enam kali lebih.

Kecepatan setiap orang dalam belajar, berbeda. Kemampuan menerima informasi, juga berbeda. Tak bisa kita bandingkan antara satu anggota tim dengan lainnya.

Tak bisa juga kita merasa bahwa, jika satu cara berhasil dalam menumbuhkan satu orang anggota tim, cara sama juga pasti berhasil pada anggota tim lainnya. Setiap orang itu unik.

Di sini poin kesabaran menjadi kunci. Untuk membangun tim, Pemimpin perlu sabar sesabar-sabarnya dalam membimbing dan mengembangkan tim. Semua lelah dalam proses ini akan terbayar di belakang.

Jangan menyerah saat ada anggota tim yang tak kunjung menampakkan hasil. Yakinlah bahwa setiap orang bisa berubah dan bertumbuh. Selama anggota tim yang bersangkutan juga punya kemauan untuk berubah, yang ditunjukkan dengan usaha keras untkuk menjalani proses belajar secara maksimal.


Ditulis oleh:
SURYA KRESNANDA
Head Coach at Kanirana
0811 2244 111

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *