GEN Z, FIGITAL DAN FENOMENA “OGAH WFO”

  • kaniranacoaching
  • Feb 09, 2023
https://karrierebibel.de/

Belakangan ini marak kejadian dimana generasi muda enggan kembali kerja ke kantor, berharap bisa tetap WFH. Dalam proses penerimaan karyawan baru pun, banyak pertanyaan, “Apakah bisa bekerja dari rumah?”

Kondisi ini mungkin membuat sebagian orang heran. “Bukankah lebih enak bekerja dikantor, bisa fokus, segala fasilitas ada, butuh apa-apa tinggal komunikasi dengan orang di kantor…” kata sebagian diantaranya.

Di sisi manajemen, melihat sepertinya akan lebih mudah diawasi segala sesuatunya jika karyawan berkumpul di satu lokasi.

Saya mencoba mengulik sedikit-sedikit tentang satu generasi baru bernama Gen Z, generasi yang mengisi ruang-ruang karyawan muda hari ini. Beberapa penelitian mengatakan, Gen Z adalah orang-orang kelahiran antara 1994-2011 (ada beberapa pendapat berbeda lain). Generasi ini sekarang paling tua di 28 tahun, dan berarti menduduki mayoritas karyawan usia 20-an di banyak bisnis dan perusahaan.

David & Jonah Stillman menulis, salah satu ciri Gen Z adalah FIGITAL. Singkatan dari FISIK-DIGITAL. Berarti, dalam benak Gen Z, dunia fisik dan digital gak ada bedanya.

Kalo Milenial dan Gen X, mungkin bisa beradaptasi dengan digital, namun masih merasa, “Fisik / offline, lebih baik.” sedang bagi Gen Z SAMA SAJA

Inilah yang menjadikan pola pikir, “Kan lebih enak kerja dikantor karena ini dan itu…” jadi gak nyambung dibenak Gen Z. Pun saat manajemen merasa, “Kan kalo ngantor lebih mudah diawasi,” juga gak pas di benak Gen Z sekarang banyak cara-cara digital yang bisa dimanfaatkan untuk sekedar mengawasi apakah di rumah mereka beneran kerja apa enggak.

Ditambah lagi kemacetan kota-kota besar seperti jakarta yang memakan sepertiga hidup. Saat Gen Z memandang sama saja kerja digital dan fisik, makin nggak esensi (di benak mereka) untuk menghabiskan 3-6 jam sehari di jalan serta puluhan hingga ratusan ribu biaya tol demi proses kerja yang… di rumah juga bisa .

Mungkin Milenial dan Gen X (berarti termasuk saya) mulai bilang, “Lho tapi kan…” dengan beragam alasan terisi di ‘titik-titik’nya. Oke, saya gakkan menolak segala alasan yang membenarkan bahwa kerja di kantor harusnya lebih efektif. Pada dasarnya gak ada yang benar-benar ‘benar’ atau benar-benar ‘salah’. Semuanya kasuistis.

Paling tidak, melalui tulisan ini saya ingin mengajak, terkadang untuk bernegosiasi atau berdiskusi dengan Gen Z, kita perlu memahami dulu jalan pikirannya. Ya mirip-mirip kayak dulu Gen Z dan Baby Boomers mesti mencoba kenal dengan Milenial.

Barangkali masih banyak yang menganggap Gen Z itu mirip Milenial. Kenyataannya nggak. Gen Z ini generasi baru, dengan gaya baru, karekteristik baru, sehingga perlu ditangani dengan cara berbeda.

Penelitian David & Jonah Stillman serta artikel saya ini tentu bukan kebenaran 100%, karena perlu melihat aspek budaya & lingkungan per orang secara spesifik. Namun paling tidak, berharap bisa mendorong kita untuk mencari tahu seperti apa generasi sekarang dan tidak otomatis menganggap pasti sama dengan Milenial.

Ditulis Oleh :

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *